Pada malam Nisfu Sya’ban hendaklah kita merebut peluang keemasan ini
dengan cara menghidupkan malamnya dengan ibadat. Sebelum itu, pada
siangnya eloklah berpuasa terlebih dahulu. Apabila
selesai menunaikan solat Maghrib, disunatkan solat sunat dua rakaat.
Selepas itu, hendaklah dibaca surah Yaasin sebanyak tiga kali dengan
niat yang berbeza-beza sebagaimana yang akan dijalaskan nanti.
Laman
Tampilkan postingan dengan label AMALAN ISLAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AMALAN ISLAMI. Tampilkan semua postingan
23 Juni 2013
4 Desember 2012
10 PINTU TERBESAR YANG DIMASUKI SYETAN
“ketahuilah bahwa hati adalah ibarat sebuah benteng. Setan sebagai musuh kita selalu ingin memasuki benteng tersebut. Setan senantiasa ingin memiliki dan menguasai benteng itu. Tidak mungkin benteng tersebut bisa terjaga selain adanya penjagaan yang ketat pada pintu-pintunya”
Pintu-pintu tersebut tidak bisa terjaga kecuali jika seseorang mengetahui pintu-pintu tadi. Setan tidak bisa terusir dari pintu tersebut kecuali jika seseorang mengetahui cara setan memasukinya. Cara setan untuk masuk dan apa saja pintu-pintu tadi adalah sifat seorang hamba dan jumlahnya amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan pintu-pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang setan biasa memasukinya. Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalah ini.
20 Agustus 2012
Hikmah 'Idul Fitri
Baru saja kita menyambut hari raya Idul
Fitri 1433 H. Sudah menjadi rutinitas tahunan, banyak diantara kita yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan lebaran.
Dari segala macam makanan, minuman hingga pakaian dan perhiasan. Agar sikap kita seorang muslim tidak menyimpang dari tuntunan Agama maka ada baiknya kita membaca sekilas hikmah idul fitri atau makna lebaran sesuai ajaran Rasulullah Muhammad SAW di bawah ini.
10 Agustus 2012
Beberapa Amalan yang Dianjurkan pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan
Setelah
memaklumi bahwa lailatul qadr berada pada sepuluh malam terakhir
Ramadhan, tentu seorang hamba harus mempersiapkan dirinya dengan
beberapa amalan shahih yang, kalau dikerjakan pada lailatul qadr, nilai
amalan itu tentu lebih baik daripada dikerjakan selama seribu bulan.
Amalan shahih apapun, yang dikerjakan pada lailatul qadr, akan mengandung keutamaan tersebut. Oleh karena itu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat memaksimalkan amalan shalih pada sepuluh malam terakhir sebagaimana diterangkan oleh Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ
“Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat
bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir, suatu hal yang beliau
tidak bersungguh-sungguh (seperti itu) di luar (malam) tersebut.” [1]
Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim mencontoh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam kesungguhan beliau dalam hal menjalankan ibadah.
Dalil-dalil Tentang Kewajiban dan Keutamaan Puasa Ramadhan
Dalil-dalil tentang kewajiban puasa Ramadhan sangatlah banyak dalam
nash-nash Al-Qur`an dan Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’âla,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ
طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ
تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ
الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ
مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ
بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى
مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar
kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang
siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu
berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya,
(jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan
seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan
hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian
jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an
sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk
itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu,
barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di
bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang
sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa)
sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Allah
menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran
bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan
hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepada kalian supaya kalian bersyukur.” [Al-Baqarah: 183-185]
5 Juni 2012
KEUTAMAAN BULAN RAJAB
Hadis Nabi saw tentang Keutamaan Bulan Rajab
Doa ketika melihat bulan sabit Rajab
Anas bin Malik berkata bahwa ketika memasuki bulan Rajab Rasulullah saw
berdoa: “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan
sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”
Hadis ini bersumber: Al-Faqih Abu
Muhammad Ismail bin Al-Husein Al-Bukhari dari Al-Imam Abu A’la’, tahun
399 H, dari Ismail bin Ishaq, dari Muhammad bin Abu Bakar, dari Zaidah
bin Abi Raqad dari Ziyadah An-Numairi dari Anas bin Malik. (Fadhail
Syahr Rajab: 494)